Being Perfect (Part 3)

Mungkin, selama 4 tahun terakhir aku dan Rama menjadi pasangan paling sempurna yang diidamkan oleh banyak orang. Saling melengkapi, saling mengerti, dan melakukan banyak hal menarik yang sama-sama kami minati. Mulai dari kami hanya sepasang maba yang jatuh cinta, sampai menjadi pasangan senior yang diidolakan banyak junior. Kadang kami bertengkar, lalu kami akan segera introspeksi diri dan saling mengakui kesalahan. Mungkin kami memang terlihat sempurna, tetapi tidak ada sempurna yang benar-benar sempurna. Kami tidak pernah membawa hubungan kami ke dalam keluarga. Orang tua kami tidak menyangka bahwa kami menjalin hubungan yang serius. Hubungan yang menatap masa depan. Hubungan yang memikirkan hidup kami berdua hingga ajal yang memisahkan. Semua kesempurnaan tersebut kadang terasa pahit saat kami sadar bahwa kami selama ini hanya bermain sebuah drama romansa, tanpa ending yang nyata. Semua kesempurnaan yang dilihat dan diidamkan banyak orang hancur dalam waktu 3 jam. Mungkin salah kami, terlalu lama tidak berani mengambil langkah serius. Mungkin salah kami, yang terlalu lama takut sakit hati. Mungkin salah kami, yang terlalu asik memainkan drama panjang tanpa akhir ini. Dua minggu lalu semuanya hilang dan lenyap. Semua rencana pernikahan dengan Rama yang kami rencanakan akan kami laksanakan setelah wisuda, kini tinggal kenangan. Tepat, 3 hari sebelum kami wisuda. Begitu sempurnanya.


Pagi-pagi sekali Rama menelpon ku, ia menyuruh ku keluar kamar. Aku kuliah di luar kota, orang tua ku menyewakan ku sebuah apartement dekat dengan kampus ku. Aku membuka pintu dan menemukan sebuah kotak berwarna biru berukuran yang lumayan besar. Aku membawanya masuk dan membuka isinya di dalam. Mungkin aku, wanita yang paling beruntung pagi itu. Isi dari kotak tersebut adalah sebuah tas Mango berisi gaun pendek selutut dengan warna biru tua kesukaan ku. Lengannya pendek, dengan bentuk leher V. Lalu, sebuah kotak kecil Tiffany & co. berisi kalung dengan bandul berbentuk hati dan mata berlian satu yang mencolok. Sebuah tas kecil Victoria’s Secret dengan isi parfum yang merupakan favorit ku sejak SMA. Sebuah kotak sepatu Vicari yang di dalamnya terdapat plump dengan warna senada gaun ku. Sebuah kotak kecil lagi bertuliskan Charles & Keith yang berisi clutch warna perak. Setangkai Mawar dengan warna putih terselip di dalamnya. Sebuah surat juga terselip di dalam kotak tersebut. Surat yang dimasukkan ke dalam amplop biru muda. Aku membaca isi tersebut,

Pagi, Sasa!

Nanti malam, jam 7 aku jemput kamu ke apartement. Pakai semua yang aku kasih di dalam kotak ini ya, sayang. Aku mau bawa kamu ke suatu tempat.

Dengan cinta,

Rama

Aku tersenyum melihat surat dan isi kotak tersebut. Rama sudah bekerja tetap di sebuah perusahaan sejak awal semester 8. Aku tau ini semua pasti menghabiskan banyak sekali uang tabungannya. Aku menelpon Rama pagi itu.

“Kamu nggak salah nih?” Ujar ku tepat ketika suara sambungan kedua diangkat.

“Enggak, ini bagian dari rencana ku. Aku udah siapin semuanya kok, kamu nggak usah protes. Pakai semuanya. Oke?” Ia menginterupsi kalimat ku. “Oh iya, jangan lupa makan hari ini. Aku  ada urusan kecil di kampus, ingat ya jam 7 aku jemputin kamu. Bye, hon!” Katanya lagi tanpa memberiku kesempatan berbicara dan langsung menutup telpon. Rama, orang yang kadang menyebalkan sekali, tapi sekaligus membuat ku ingin tersenyum sepanjang hari.

Malamnya, Rama datang ke apartement ku tepat waktu. Ia tidak juga memberi tau ku kemana kami akan pergi. Hingga, ia membawa ku ke suatu tempat dimana aku mengenalinya sebagai arah ke rumahnya. Rama memang berasal dari kota yang sama dengan ku, tetapi keluarganya pindah ke kota ini 3 bulan yang lalu. Perasaan ku mulai campur aduk. Berbagai pikiran seliweran dalam benak ku. Aku mulai gelisah. Tiba-tiba aku merasakan tangannya menggenggam tangan ku. Mendekati area rumahnya aku bisa melihat keramaian di rumahnya. Banyak mobil parkir depan rumahnya.

“Keluarga besar ku ngadain acara makan malam bersama sekaligus arisan keluarga dan kerabat, jadi aku mutusin buat ngenalin kamu ke mereka malam ini. Awal hubungan serius kita, Sa. Kamu mau kan?” Ia kemudian memarkir mobilnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Aku hanya diam dan tersenyum saat ia membukakan pintu ku seperti biasa dan memberikan tangannya untuk membantu ku turun dari mobil sportnya. Semua hal manis tersebut masih bertahan, semua kesempurnaan yang dikenal banyak orang itu.

Kami kemudian berjalan beriringan, aku berada di sebelah kanannya. Tangannya menggandeng tangan ku, seperti biasa. Kami kemudian melangkah masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Keramaian terdengar dari dalam rumahnya. Aku semakin gugup  saja. Lalu, tepat ketika Rama memunculkan wajahnya di depan pintu sebelum aku menyusul di sampingnya, sambil mengucapkan salam, ibunya menyambutnya dengan bahagia dan dengan sebuah kalimat yang seperti menampar ku.

“Nah, ini Ramanya sudah datang. Ini loh, ibu mau kenalin kamu sama Rene. Ibu sama orang tuanya sudah merencanakan hubungan kalian ini dari kecil, tapi baru mau mempertemukan kalian sekarang. Masuk, masuk sini” Ibunya menarik Rama ke dalam. Tepat ketika wanita tersebut melihat sosok ku yang memang lebih pendek daripada Rama. Seisi rumah tersebut terdiam, semuanya menatap ke arah ku. Aku seketika tidak tau harus berbuat apa. Rama kemudian berdiri di samping ku, merangkul ku. Aku tersenyum manis, mata ku mulai buram karena berair. Aku memberanikan bicara. “Selamat malam bu, maaf mengganggu acara kalian. Sebaiknya saya pamit saja sekarang.” Aku lalu berbalik dan melepaskan rangkulan Rama lalu kemudian melangkah keluar rumah. Aku dapat mendengar ibunya bertanya kepada Rama siapa diri ku, dengan lantangnya Rama menjawab bahwa aku calon istri yang akan ia kenalkan dengan keluarganya.

Aku terus berjalan. Ketika aku berada di luar pagar, aku melepas plump ku dan berlari. Aku dapat mendengar langkah kaki Rama mengejar ku. Air mata ku mengalir dengan mudahnya. Tepat ketika sebuah taksi melintas, aku memanggilnya dan masuk ke dalamnya. Aku menyuruhnya mengantar ku ke apartement ku. Aku melihat Rama mengejar taksi ku lalu kemudian berhenti. Aku menengok ke belakang melihatnya dan semua air mata ku keluar tanpa bisa ku cegah. Aku ingin bicara dengan seseorang. Aku butuh seseorang. Aku butuh Rama. Aku Sangat membutuhkan Rama. Aku memerlukan pundaknya yang rela ku senderi dan aku butuh telinganya yang rela mendengarkan keluh kesah ku, aku membutuhkan hatinya yang sabar menghadapi diri ku. Aku benar-benar membutuhkan Rama. Aku menangis terus-menerus tanpa bisa ditahan lagi. Semuanya terasa hilang, semuanya hancur. Besok lusa, aku dan Rama akan wisuda. Harusnya, saat itu kami mulai menjalankan rencana sempurna kita. Menjalani semua hal sempurna. Tetapi dalam hitungan detik, semuanya berubah.

Esok paginya, Rama mengetok pintu apartement ku. Aku benar-benar membutuhkannya. Air mata ku keluar lagi, mata ku bengkak. Aku membukakan pintu ku dan saat itu juga Rama memeluk ku. Ia menangis, setelah sekian lama bersama melihatnya menangis seperti ini hati ku seperti hancur. Aku seakan-akan bisa merasakan dinding pertahanan hatinya seakan hancur. Aku membenamkan wajah ku dalam pelukannya, Aku bisa merasakan kecupannya pada puncak kepala ku. Ia kemudian mencium kening ku. Wajahnya sembap, matanya berlinangan air mata. Aku semakin tidak sanggup melihatnya.

Aku menariknya masuk ke dalam apartement ku dan menutup pintu. Aku menunggu ia menjelaskan sesuatu. Aku menunduk tidak mau menatap matanya. Ia kemudian menarik ku lagi dan mendekap. Air mata ku semakin deras keluar. Hati ku serasa hancur berkeping-keping. Aku yang selama 7 tahun jatuh cinta kepadanya kini benar-benar telah mencapai dasarnya dan aku hancur. Aku tau ia juga menangis, semua rencana kami seakan-akan hanya sebuah lembaran sampah yang siap untuk dibakar dan hanya tinggal kenangan. Pernikahan impian yang kami inginkan selama 4 tahun, siap untuk hanya menjadi seberkas memori kecil yang dengan seiring waktu hanya akan terselip ke dalam memori yang paling dalam. Aku mencoba untuk berbicara, saat itu juga ia menaruh jari telunjuknya di bibir ku dan menyuruh ku diam. “Jangan berbicara, aku cuman mau nikmatin waktu kayak gini sama kamu sebelum aku bener-bener nggak bisa ngerasain ini lagi nanti.” Ia menarik ku ke atas sofa dan duduk di sana. Ia mendekapku lagi, menarik ku dalam rangkulannya. Aku bisa mencium aroma manis maskulin yang terkuar dari badannya. Aku bahkan masih ingat dengan baik bagaimana aroma parfumnya. Wangi rambutnya yang setiap pagi kadang ku rindukan. Kecupan lembutnya di puncak kepala ku atau di dahi ku. Aku bahkan dapat mengingat detailnya.

“Aku nggak tidur semalaman” Ia akhirnya bersuara. Isakannya sudah terhenti, tangannya membelai ku lembut. “Aku nggak kenal siapa Rene, yang aku tau mereka kerabat keluarga ku. Aku nggak nyangka semua ini bakal terjadi, ini semua di luar rencana ku. Aku-” kalimatnya terputus.

“Aku sudah memutuskan sesuatu.” Aku bangkit dari rangkulannya dan menatap matanya.

“Apapun keputusan mu, aku sudah dapat melihat akhir dari semua ini. Jadi, untuk sementara aku minta tolong. Jangan katakan apapun, untuk yang terakhir kali aku mohon sama kamu. Nikmatin waktu ini, untuk yang terakhir.” Ia menatap ku. Lalu memeluk ku. Aku hanya bisa terdiam. Pikiran ku kosong entah kemana. Ia kemudian berbaring di paha ku, mencium tangan ku sambil menatap mata ku lurus.

“Setelah ini, kita hadapin semuanya sama-sama. Aku akan biarkan kamu menemukan pengganti ku, baru aku akan menikahi Rene. Kamu jangan sedih, aku di sini. Aku belum pergi. Aku masih milik kamu. Berhenti nangisnya, kamu harus kuat.” Ia mencium tangan ku lagi lau menyentuh pipi ku dengan lembut sambil mengusap air mata ku yang mengalir.

“Kamu tidur dulu, kita pikirin ini habis kamu bangun ya.” Ujar ku akhirnya setelah bungkam cukup lama.

“Jangan jauh-jauh, aku mohon” dia mengatakannya lagi. Rasanya lelah menahan air mata ku. Lalu aku membelai kepalanya dengan lembut, ia Menggenggam tangan ku yang lain, lalu tertidur dalam pangkuan ku.

Pukul 3 sore, kami terbangun. Kami masih tidur di sofa, ia memeluk ku erat. Aku berbalik menatapnya.

“Aku udah ngambil keputusan. Setelah ini, kamu pulang ya. Turutin apa kata ibu. Aku bisa belajar ngeikhlasin semuanya. Sakit hati karena rencana 4 tahun kita yang gagal ini jangan kamu jadiin bahan buat ngelawan ibu. Sakit hati kita ga ada apa-apa dibanding sakit hati dan malunya ibu kalau rencana membuat anaknya senang gagal. Rencana ibu sudah jauh lebih lama daripada rencana kita. Aku mau kamu juga ikhlasin semuanya, jalanin semuanya setelah ini dengan ikhlas. Rene juga wanita, perlakukan dia semanis kamu memperlakukan ku.” Aku memaksakan sebuah senyuman. Air mata ku kembali berair dan mata ku kembali berkaca-kaca. Aku menahan tangis sekuat tenaga.

“Tapi Sa, aku sayang sama kamu. Aku cuman cinta sama kamu.” Rama menatap ku tajam.

“Menata cinta, akan jauh lebih indah daripada jatuh cinta, Rama. Kamu harus yakin, kita pasti bisa. Aku juga sayang sama kamu, Rama. Aku nggak mau karena cinta kamu durhaka, kita jalanin aja semuanya baik-baik ya,” Aku tersenyum lagi, tepat saat sebutir air mata ku jatuh. Rama buru-buru mengelap air mata ku dari pipi ku.

“Dengan syarat kamu nggak boleh nangis lagi” Rama ikut tersenyum. “dan satu lagi, bikinin aku makan siang untuk yang terakhir ya?” Senyum jailnya yang seperti biasa ia berikan kembali terlihat. Luka di hati ku seakan pulih melihatnya. Aku tersenyum balik lalu bangkit dari tidur ku dan segera menuju dapur untuk membuatkannya sup ayam kesukaannya. Untuk yang terakhir sebelum posisi ku membuatkannya makanan setiap hari akan tergantikan oleh wanita lain yang lebih beruntung daripada diri ku.


Besok adalah hari wisuda ku dan orang tua ku akan sampai besok pagi langsung ke auditorium kampus ku. Rama masih terus menghubungi ku setiap hari. Bahkan, kami tidak terasa seperti putus. Malam ini aku mengompres mata ku agar tidak bengkak esoknya. Mungkin orang tua Rama yang akan paling aku hindari besok. Aku sudah menyiapkan kebaya, sepatu, dan sekian make up yang akan aku kenakan besok. Aku belum memberitau siapapun tentang berakhirnya hubungan ku dengan Rama, mungkin mereka baru akan menyadarinya besok. Pasangan paling sempurna kini hanya sejarah. Aku sudah tidak terlalu sedih lagi, bahkan air mata ku terasa kering setiap kali aku mengingatnya. Aku sudah direkrut sebuah perusahaan untuk menjadi karyawannya dan setelah kelulusan aku sudah mulai bisa bekerja. Tapi mungkin, siang itu menjadi awal dari segalanya. Siang itu aku mendapat tamu, seseorang yang saat ini aku mungkin tidak bisa hidup tanpanya. Aku masih mengingat dua dentingan bel di siang itu dan bagaimana semuanya berubah ketika aku membuka pintu dan menemukan siapa berada di sana. Riko. Ya, dengan topi pilotnya(mungkin, karena sampai sekarang aku tidak mengerti tentang perlengkapan pakaiannya) dan tersenyum. Senyumannya masih hangat seperti dulu. Tangannya terbuka lebar seperti dulu. Saat aku patah hati dengan Feri di SMA. Saat itu juga aku memeluknya, entah kenapa waktu itu aku yang sedang kehilangan terasa lengkap lagi. Riko memeluk ku erat sekali seakan aku akan meninggalkannya dan dia tidak menginginkan itu. “There must be something wrong, isn’t it? Would you tell me or hide it till my friend who is detective in Air Force Army find out?” Ujarnya saat melepaskan pelukan dan masih merangkul ku. Mata ku berkaca-kaca melihat tatapan matanya yang masih sama. Aku tertawa kecil, aku tau ia mencoba menghibur ku. Aku menariknya masuk dan menutup pintu. “Jadi, apa 12 jam dari sekarang cukup buat nyeritain apa yang terjadi selama 4 tahun? Atau ada seorang brengsek yang perlu aku bombardemen?” Ia kini di bar dapur bersama ku. Aku menuangkan secangkir jus mangga yang merupakan minuman favoritnya(Sampai sekarang akupun tidak mengerti kenapa selama ini selalu menyimpan persediaan makanan favoritnya).

“Ceritanya simpel, aku pacaran dengan Rama sampai tadi malam,”

“Wow, apa kalian…? Menikah?” ujarnya memotong kalimat ku.

“Aku belum selesai, Ko”

“Oh, silahkan”

“Kami putus, ia dijodohkan dengan orang lain dan aku nggak mau menjalani hubungan terkutuk dengannya. Dan aku berada di sini sekarang. Mencoba ikhlas, mencoba menyikapi ini dengan dewasa, dan melupakan atau mengubur dalam-dalam memori tentang rencana kehidupan sempurna yang pernah kami rencanakan.”

Riko terdiam lama, hanya melihat tajam ke arah ku.

Say something!” Aku berteriak dan air mata ku kembali keluar. Riko masih terdiam hanya menatap lurus ke arah mata ku.

Lalu, tangannya meraih wajah ku dan mengusap air mata ku.

“Terakhir aku melakukan ini, empat tahun yang lalu ketika aku pikir aku akan kehilangan mu. Kamu sudah melakukan yang terbaik dan menyikapi ini dengan dewasa, Sa. Aku bersyukur karena ketika aku tidak di samping mu, kau memiliki Rama. Dan sekarang, aku di sini Sa. Aku sudah ditakdirkan untuk jadi malaikat penyelamat mu.” kalimat terakhirnya, sangat tidak dramatis dan saat itu juga aku tertawa. Bukan karena terpaksa, tapi karena aku merasa harus melepaskannya. Aku tertawa dan menangis di satu waktu. Aku kembali memeluk Riko. “Kau tahu, aku tidak bisa menilai riasan mu besok cantik kalau mata mu bengkak.” Ujarnya lagi dan kali itu aku tertawa tanpa menangis.

Malam itu Riko menginap di apartement ku dan kami menonton film sampai larut malam. Paginya aku terbangun dan menerima 15 pesan dari Rama semuanya karena aku tak kunjung mengangkat telponnya malam itu. Pagi itu, aku memutuskan semuanya. Aku menelponnya.

“Sa, Ya Tuhan. Akhirnya, aku khawatir” ujarnya tepat saat sambungan pertama bahkan belum selesai.

“Ram, kita harus mengakhiri semuanya. Semuanya. Karena, aku pikir itu lebih baik daripada bertingkah seakan-akan kita baik-baik saja padahal sebenarnya tidak. Aku nggak bisa terus-terusan menganggap kita masih bersama sedangkan besok mungkin kamu sudah menjadi suami orang lain. Aku harus move-on dan aku harus bisa menghadapi ini. Mungkin berat, tapi kalau kamu memang mencintai ku maka aku minta kamu untuk yang terakhir kalinya, menjauh dari hidup ku. Menyakitkan aku tau, tapi mungkin jika suatu saat nanti kita bertemu mungkin aku sudah bukan Sasa yang saat ini kamu tau. Aku akan mengirim kembali semua yang pernah kamu berikan, aku menghargai segalanya dan kenangan tentang mu tak akan ku kubur di sisi gelap hati ku. Kenangan kita akan terbingkai manis di hati dan ingatan ku Ram. Aku mungkin tidak bisa memiliki mu, tapi yakinlah bahwa Tuhan sudah menyiapkan segalanya yang terbaik untuk kita.” ujar ku. Rama diam di ujung sana. Ia tidak berujar satu kata pun.

“Wow, kau menyerah. Baiklah, aku sangat mencintai mu dan karena itu aku melepaskan mu. Semoga kamu bahagia Sa. Sampai bertemu di wisuda nanti” ia berkata sangat tenang seperti yang biasa ia lakukan. “Sa, untuk yang terakhir kalinya, aku mencintai mu.” ujarnya lagi.

“Terimakasih Rama,” kata ku lalu memutus sambungan telpon.


 

Singkat cerita, itu terakhir kali aku bertemu dengannya. Tidak, terakhir kalinya ada 12 jam yang lalu saat ia menghadiri pernikahan ku dengan Riko. Aneh? Mungkin. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan sahabat ku sendiri yang sebenarnya sangat brengsek itu. Di hari wisuda itu, aku menjauhi Rama karena waktu itu aku melihat calon istrinya menghadiri acara tersebut dan aku tak ambil pusing. Dan aku di sini sekarang, menjadi milik seorang pilot angkatan udara negara ku. Ya, Riko akan mengambil cuti selama 3 bulan untuk bersama ku lalu kembali bertugas dan aku bisa memulai bisnis ku yang baru. Aku menikmati setiap momen sekarang dan semuanya tidak akan terjadi tanpa masa lalu yang suram tetapi memberikan pelajaran. Oleh karena itu, aku berterima kasih terhadap masa lalu yang terhormat(aku tertawa ketika menulis ini). Sekarang pukul 5 pagi dan aku tau Riko akan bangun sebentar lagi. Kini ia tidur di samping ku, aku harus siap bosan karena melihat wajahnya setiap aku hendak memejamkan mata sebelum aku tidur dan saat pertama kali membuka mata ketika terbangun di pagi hari. Lamaran yang ia lakukan di pesawat sebulan yang lalu benar-benar memberitahuku apa itu artinya sempurna. Bukan karena sebuah pesawat atau sebuah seragam, tetapi karena kamu tahu dimana hati mu seharusnya berada dan kamu menikmati setiap detailnya untuk kembali diingat nanti.

Sasa, 16-05-2015


Good morning, sweetie” Riko memeluk Sasa dari belakang pagi itu. Tepat ketika wanita tersebut baru saja menyelesaikan tulisannya di sebuah buku yang biasa menjadi buku hariannya ketika ia masih SD.

“Pagi, pilot” Sasa berbalik dan tersenyum menatap Riko.

You’re not gonna kiss me?” Riko mendekatkan wajahnya dengan Sasa. Lelaki itu mencium kening wanita yang kini berstatus istrinya tetapi tidak pernah menjabat sebagai pacarnya. Sasa tersenyum dan balas mencium bibir lelaki itu.

Have you just kissed your best friend?” Riko menatap Sasa dengan tatapan jahil.

Oh, come on! I’m no longer your best friend, I’m your wife, hon” Sasa tertawa sambil melingkarkan tangannya di kedua bahu Riko

Yes you are darl, but you will always be my best friend and I never want to lose my best friend. Because, she is the only person I wanna spend my life with. Even I’m in love with her now, it’s just makes her mine forever and I know I won’t lose my best friend.” 

You what, Rik? I’m with you till the end,”

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s