Being Perfect (Part 2)

Harapan 3:

“Cowok item manis tadi ya ampun! Dia siapa ya, semoga bisa kenal deh” – Sasa

“Sasa seperti orang jatuh cinta lagi, Ya Tuhan! Semoga dia bahagia, bantu aku ikhlas, Tuhan” – Riko

Aku tertawa membaca gulungan yang ku buka kali ini. Aku ingat bagaimana bodohnya aku jatuh cinta pada seorang lelaki bernama Feri. Anak baru di sekolah ku. Wajahnya memang manis, hidungnya mancung, kulitnya kecoklatan, matanya berwarna coklat kopi, dan potongan rambutnya yang semakin membuatnya terlihat manis. Feri tidak terlalu tinggi, bertubuh kurus, tetapi senyumnya yang manis dan misterius sempat membuat ku penasaran waktu itu. Meskipun pada akhirnya aku tau, aku seratus persen salah menilai siapa dia.

Harapan ku akhirnya terwujud, dua minggu setelahnya, diadakan game di sekolah. Kami dibagi menjadi dua kelompok, laki-laki dan perempuan. Lalu, kami dibagikan kartu berupa potongan gambar yang dipisah. Kami ditugaskan mencari potongan gambar tersebut, dan kebetulan sekali kartu ku berpasangan dengan kartu miliknya. Bahkan kami yang pertama kali bertemu. Akhirnya, sekolah memilih kami sebagai pasangan yang akan mewakili sekolah dalam peragaan busana daerah dalam rangka ulang tahun kota. Hal itu, kemudian membuat diriku dekat dengan Feri. Awalnya, dia sangat tertutup, bahkan aku sempat berpikir kalau saja dia tidak suka berteman dengan ku. Hingga di suatu malam, dimana ia mengajak ku keluar bersama.

Ia membuka diri dan ia mulai bercerita tentang siapa dia. Masa lalunya, keluarganya, dan selera bahkan hobinya. Kami bahkan menyukai genre musik yang sama dan genre film yang sama. Lalu aku juga mengetahui bahwa ia lahir hanya berselang 3 hari sebelum aku lahir. Aku ingat bagaimana ketika ia mengajak ku makan malam sebelum mengantar ku pulang. Di cafe tersebut, ia maju ke atas panggung dan bermain gitar. Aku ingat alunan petikan gitar dari lagu Michael Learns To Rock yang berjudul Paint My Love yang ia nyanyikan untuk ku malam itu. Suara seraknya yang menghanyutkan, petikan gitarnya yang lembut, dan senyum manis yang ia berikan pada ku. Semuanya masih tersimpan dengan manis di bagian paling dalam memori ku.

Seminggu kemudian, kami resmi berpacaran. Aku bahkan hampir tidak mengacuhkan Riko yang berapa malam itu memanggil ku dari balkon kamarnya yang bersebrangan langsung dengan balkon kamar ku. Hal yang sampai sekarang selalu aku sesali. Aku yang waktu itu terbuai dengan cinta, lupa untuk menarik diri ku kembali ke dunia realita. Aku berpikir bahwa Feri ada pelabuhan terakhir ku dan ternyata aku salah total.

Sempat berjalan satu bulan, aku menemui Feri yang kembali menjemput mantannya. Malam itu, sebelum kami merayakan satu bulan hubungan kami, Feri menelpon ke rumah ku. Dan di situ lah kami mengakhiri hubungan kami. Bahkan, sampai sekarang aku tidak mengerti apa alasan jelasnya. Yang aku ketahui, ia kembali dengan mantannya, lalu kemudian putus lagi, dan terus seperti itu, dan aku hanyalah seorang figuran yang dibawa masuk oleh Feri ke dalam drama cintanya.

Esok paginya, Riko datang ke rumah ku. Ia membawakan ku sekotak pudding coklat dengan fla vanila favorit ku. Riko jago membuat kue, yang semuanya aku sukai. Pagi itu juga aku menangis dalam pelukan Riko. Air mata ku membasahi seragamnya yang putih. Satu hal yang aku ingat, pagi itu dia mengatakan “Harapan aku kali ini nggak terwujud Sa, kamu jangan sedih lagi. Aku antar ke sekolah ya, mumpung masih pagi. Nanti sore aku jemputin di sekolah lagi,” aku ingat wajah marahnya pagi itu. Dan wajah marahnya ketika sore hari setelah pulang sekolah ia mendatangi Feri di sekolah ku. Mereka hampir terlibat kelahi kalau saja aku tidak cepat datang melarai. Sore itu, sampai malam aku menangis di rumah pohon dengan Riko. Riko tidak berbicara satu kata pun, ia bungkam. Ia hanya sabar mendengarkan semua kekesalan ku, ia dengan sabar menenangkan ku.

Satu kalimat yang keluar dari mulutnya, yang juga sekalian menghentikan tangis ku adalah “Air mata kamu terlalu berharga, untuk lelaki yang bahkan tidak menghargai cinta mu, Sa. Ini bukan Sasa yang aku kenal. Laki-laki brengsek yang baru kamu kenal satu bulan, seperti mengambil Sasa yang ku kenal seumur hidup ku pergi”. Ucapannya waktu itu seakan-akan menampar ku. Air mata ku seketika berhenti mengalir, dan aku dapat merasakan kepahitan, kepedihan, luka, di hati ku seperti disiram. Saat itu juga, dimana otak ku bekerja dominan daripada hati ku, dan pada saat itu juga dimana, rasa cinta ku pada Feri berubah menjadi benci.

Harapan 4:

“Ultah mama kali ini harus spesial!” – Sasa

“Rencana ku dengan Sasa kali ini harus sukses!” – Riko

Mungkin, ini momen paling manis sepanjang masa SMA ku dengan Riko. Momen ini terjadi ketika aku menghabiskan tahun terakhir ku di SMA. Pada saat liburan pergantian semester, aku dan Riko nekad kabur berdua dan menginap di luar kota. Kami sukses membuat banyak orang kalang-kabut mencari kami. Kami sebenarnya hanya menginap di rumah Nenek Riko selama tiga hari. Tapi kami sudah merencanakan ini matang-matang. Pelarian kami selama tiga hari ini sangat sukses karena, kami berdua kabur malam hari. Riko yang berusia lebih tua setahun, sudah memiliki surat izin mengemudinya. Ia bahkan sudah memiliki mobil pribadi, hadiah dari Papanya ketika ia ulang tahun ke-18.

Malam minggu, pukul dua malam kami kabur dari balkon kami dan memanjat ke atas tembok pembatas rumah kami. Paginya pukul enam, kami telah sampai di rumah nenek Riko. Kami sengaja membawa ponsel dengan nomor yang berbeda untuk mendukung rencana pelarian kami. Nenek Riko sudah mengetahui apa yang akan kami lakukan dan rencana kami sebenarnya, sehingga beliau mau membantu kami. Sesampainya, kami istirahat hingga pukul sepuluh pagi. Lalu, seharian itu kami membuat rangkaian bunga bertuliskan “Selamat Ulang Tahun Mama, RIKO-SASA”. Nenek Riko sudah menyiapkan bunga-bunga yang kami butuhkan. Butuh waktu dua hari agar kami menyelesaikannya. Sesuai perhitungan kami, sore hari ketiga setelah selesai membuat kue aku, Riko, dan Nenek Riko bergegas kembali ke rumah Riko. Tepat pukul 11.55 malam kami sampai di rumah.

Yang membuat kami berdua kaget, kedua orang tua kami bahkan menelpon polisi. Saat kami sampai, rumah kami masih ramai dan saat itu kami sadar bahwa mereka telah memanggil polisi atas hilangnya kami selama 3 hari. Tepat ketika mobil Riko parkir di sebrang jalan rumahnya, semua orang yang berkumpul di rumah ku keluar dan menunggu kami turun. Nenek Riko turun duluan untuk mengalihkan perhatian selagi kami mempersiapkan kado, kue, dan kejutan kami. Tepat pukul 12 malam kami berdua turun sambil membawa kejutan kami. Saat itu juga teriakan marah dan kesal mereka masih bisa aku ingat sampai sekarang. Tawa mengejek para polisi, ekspresi lega dari kedua kakak Riko, dan kedua Papa kami yang menatap kami dengan tatapan tidak percaya. Kalimat yang membungkam amarah mereka saat itu hanyalah, “Selamat ulang tahun mama, kami buatkan ini untuk kalian. Makanya kami kabur ke rumah nenek.”

Harapan 4:

“Ya Tuhan semoga aku lulus di perguruan tinggi yang selama ini aku impikan! Semoga Riko lulus seleksi akademi!” – Sasa

“Ya Tuhan, jika aku lulus seleksi angkatan, tolong kirimkan seorang pengganti diriku selagi aku jauh darinya, kabulkan harapannya, dan pertemukan kami kembali setelah aku bertugas” – Riko

Waktu itu, sore-sore aku menunggu dengan was was di lapangan sekolah bersama seluruh teman seangkatan ku. Kami menunggu pengumuman kelulusan, Riko tidak henti mengirimkan ku pesan singkat mengenai pengumuman kelulusan ini. Sekolahnya tidak terlalu jauh dari sekolah ku. Jika menggunakan sepeda, maka hanya akan memakan waktu 15 menit. Riko berjanji malam itu akan menjemput ku di sekolah.

Kepala sekolah naik ke atas panggung, membuat kami semua seketika hening. Lalu ia mulai membuka mulutnya, mengucapkan salam pembuka, basa-basi pidato, dan akhirnya beliau mengatakan akan mengucapkan pengumuman. “Kabar gembira dan kabar buruk. Tahun ini sekolah kita tidak meraih nilai tertinggi di kota, meskipun banyak dari kalian mendapat nilai sempurna. Tetapi, kalian semua berhasil lulus dari sekolah ini. Saya berikan selamat kepada kalian semua,” saat itu juga lapangan menjadi riuh. Kami saling berpelukan bahagia, bahkan tidak sedikit dari kami yang menangis. “Besok, beberapa universitas akan menempelkan kertas pengumuman siswa yang diterima dari sekolah ini. Maka, datang besok pukul delapan pagi.”

Aku menerima telpon dari Riko, ia memberitahukan kalau ia mendapat nilai 10 untuk fisika dan matematika. Mudah ditebak, karena faktanya ia lebih pintar daripada aku. Ia menyuruh ku menunggu sebentar karena ia hendak berfoto sebentar dengan teman-temannya. Sembari menunggu, aku duduk di sebuah bangku taman sekolah. Aku sudah selesai berfoto sambil memberi kado kenang-kenangan ke beberapa teman. Aku masih sangat senang dengan hasil yang aku terima. Aku memainkan game yang ada di ponsel ku sembari menunggu Riko. Tak lama, Rama datang menghampiri ku. Yah, selama SMA ini aku memang menyukai cowok yang satu ini. Rama bertubuh tinggi, tetapi dibandingkan Riko, Rama lebih pendek. Rama anggota paskib di sekolah ku dan juga pengurus OSIS. Waktu kelas 10, kami sekelas. Ia mengambil universitas dan fakultas yang sama dengan ku saat tes masuk universitas beberapa waktu lalu, hanya saja ia mengambil jurusan yang berbeda. Rama mengambil jurusan teknik mesin, sedangkan aku mengambil jurusan Teknik Arsitektur. Jujur, aku sedikit senang waktu mengetahui ia mengambil universitas dan fakultas yang sama dengan ku. Itu artinya, aku akan punya kesempatan bersama dengan dia lebih lama. Aku mulai menyukainya sejak aku putus dengan Feri 3 tahun lalu, ia sering berbagi cerita dengan ku. Kami memiliki selera humor yang sama, kami menyukai stand-up comedy yang waktu itu belum terlalu terkenal di Indonesia. Kami sama-sama fans berat Chris Rock dan kami memiliki pola pikir yang mirip. Aku tidak pernah melihatnya jalan bersama atau dekat dengan anak cewek. Di OSIS ia menjabat sebagai wakil ketua satu. Jiwanya yang optimis dan semangat yang sering ia berikan ketika kami bertemu atau sekedar duduk di kantin bersama membuat ku jatuh hati pada cowok satu ini.

“Hai, Sa” ujarnya

“Hai, Ram,” balas ku sambil tersenyum. Ia lalu duduk di samping ku.

“Hmmm, lagi nunggu jemputan?” tanyanya memulai obrolan.

“Iyaa, Ram. Kamu nggak pulang?”

“Habis ini mau ada semacam acara perpisahan OSIS angkatan ku dulu, dijemput Riko?”

“Iyaa Ram. Besok kira-kira kita keterima gak ya Ram?” tanya ku balik padanya. Ia hanya tersenyum.

“Gak tau, Sa. Tapi dari perbincangan guru-guru BK yang sempet aku denger kemarin sih katanya ada empat siswa sekolah kita yang keterima di sana.” jawab Rama.

“Mudahan kita termasuk empat orang itu ya, Ram.”

“Iya, Sa. Amin. Tapi, sebenernya aku ke sini mau ngomong sesuatu, Sa.” tiba-tiba ekspresi pada wajahnya berubah serius. Sentak, debar jantung ku berubah menjadi lebih cepat. Matanya menatap lurus ke mata ku. Lalu ku rasakan tangan kanannya menggenggam tangan kiri ku. Mendadak suasana berubah canggung. Aku tidak mau suasana menjadi aneh seperti ini.

“Kamu mau ngomong apa, Ram? Kok kayaknya serius banget.” Ujar ku sambil tertawa kecil. Ia balas tersenyum dengan manis.

“Aku mau ngungkapin ke kamu, kalau selama ini sebenernya aku suka sama kamu, Sa. Kamu tau kan prinsip yang selama ini ku pegang tentang masalah gak-mau-pacaran-sampai-lulus-sma? Aku ngerasa berhasil megang prinsip ku Sa. Bahkan aku ngerasa, kamu alasan aku tetap percaya sama prinsip ku. Habis putus dari Feri, kamu bahkan nggak pernah dekat dengan laki-laki lain. Kamu sumber semangat aku selama tiga tahun di SMA ini, Sa. Bahkan aku nggak sekedar suka sama kamu, aku sayang sama kamu.” Rama masih menatap kedua mata ku. Matanya menyiratkan ketulusan. Genggaman tangannya yang hangat memberikan efek sendiri pada ku. Rasanya perut ku mulas, jantung ku berdetak semakin cepat lagi. Kapan terakhir kali aku merasakan ini? Entahlah. Pikiran ku berkecamuk. Rasanya senang, bingung, juga kaget. Aku lalu tersenyum tipis. Rasanya aku ingin menangis. Menangis bahagia. Melihat ekspresi ku, Rama kembali berkata. “Sekarang aku mau nanya sama kamu, Sa. Kamu mau jadi pacar ku? Kita bisa kuliah di kampus yang sama. Aku yakin kita adalah bagian dari empat orang yang keterima.” Ia tersenyum. Senyumnya tulus dan penuh keyakinan. Aku masih tidak sanggup berkata-kata. Aku kemudian tersenyum sambil menggangguk senang. Ia lalu tersenyum balik ke arah ku. Memeluk ku dan mencium dahi ku. Aku masih ingat setiap detail kejadian tersebut. Bagaimana bibirnya mengecup dahi ku. Pelukan hangat darinya sore itu. Senyum tulusnya.

Aku kemudian berbisik padanya, “Satu hal yang kamu harus tau, Ram. Aku merasakan hal yang sama selama kita SMA, Ram. Kamu  alasan aku bangkit dari keterpurukan ku setelah Feri”. Ia tersenyum lagi. Tangannya masih menggenggam tangan ku. Kami kini duduk bersampingan di bangku tersebut. Ia telah melepaskan pelukannya. Tepat saat itu, Riko datang.

“Pulang ya, hati-hati di jalan. Salam buat Riko. Nanti malam aku telpon kamu.” Kata Rama sambil tersenyum. Aku kemudian tersenyum balik sambil melepaskan genggaman tangan ku.

“Daaah” ujar ku sambil melambaikan tangan sembari berjalan menuju motor Riko.

Rama masih duduk di bangku tersebut. Tersenyum ke arah ku. Ia juga tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Riko yang dibalas juga dengan senyuman serta lambaian tangan dari Riko. Aku tidak dapat berhenti tersenyum sampai akhirnya saat kami sampai di rumah, aku turun dari motor Riko.

“Aku mau cerita sesuatu” Ujar ku saat aku turun dari motornya.

“Aku juga mau ngomong sesuatu, Sa” ujarnya sambil tersenyum. Senyumnya kali ini beda, ia memberikan ku senyuman manis yang jarang ia berikan. Yang waktu itu ku anggap sebagai senyum bahagia karena ia berhasil meraih nilai yang sangat bagus. “Kamu duluan deh yang ngomong, Sa” katanya kemudian.

“Aku jadian sama Rama, Rik!” ujar ku sambil tersenyum bahagia. Waktu itu aku tidak menyadari perubahan senyum dalam Riko. Aku yang terbiasa melihat semuanya secara detail, baru kali ini aku menyadari kalo senyumnya waktu itu berubah drastis setelah mendengar ucapan ku. Ia lalu kemudian berkata “Selamat, Sa. Aku seneng dengernya.” Ia masih tersenyum. Matanya berair, aku ingat sekali. Waktu itu aku mengira itu adalah air mata terharu bahagia karena ia juga bahagia karena mungkin yang akan ia utarakan berikutnya adalah berita bahagia. Karena memang setelah itu ia mengatakan berita bahagia.

“Tadi kamu mau ngomong apa, Rik?” tanya ku masih tersenyum.

“Aku mau ngasih tau kamu kalau aku keterima di akademi. Tapi, itu artinya kita bakal gak ketemu selama empat tahun, Sa. Kita nggak bisa lagi jalan-jalan santai tiap minggu, main tiap kita nggak punya kerjaan, kerjain tugas bareng karena sekarang tugas kita beda. Aku seneng kamu jadian sama Rama, aku bisa minta Rama buat jagain kamu selama aku tugas. Tapi aku bakal tetap berusaha hubungin kamu, Sa.” senyumannya pudar, ekspresi wajahnya berubah serius. Ucapnnya yang terakhir seperti paku yang menusuk hati ku. Aku senang cita-citanya tercapai, tapi aku juga sedih karena harus rela ditinggal olehnya. Reflek aku memeluknya. Aku membenamkan kepala ku di dadanya, tubuhnya yang jangkung membuat ku hanya setinggi dadanya. Ia memeluk ku balik. Yang saat itu aku berpikir bahwa itu adalah pelukan perpisahan kami.

“Selamat, Rik. Jaga diri baik-baik, ya. Kamu dapat salam dari Rama. Aku seneng cita-cita kamu kecapai. Aku udah besar, Rik. Aku bisa jaga diri, aku tetep bakal nunggu kamu pulang.” ujar ku. Aku bisa merasakan pelukannya yang makin erat. Aku ingat detail aroma tubuhnya, hangat pelukannya, dan bagaimana ia mengacak rambut ku setelah kami berpelukan. Ia tersenyum. Matanya masih berair.

“Kamu pulang, mandi, besok pagi aku antar ke sekolah liat pengumuman.” ujarnya lagi. Aku mengangguk lalu beranjak pergi masuk ke rumah sambil melambaikan tangan ke arahnya. Ia juga masuk ke rumahnya. Malam itu malam yang membahagiakan buat ku, karena malam itu aku bisa makan malam bahagia dengan keluarga ku, perbincangan pertama ku dengan Rama sebagai pacar meski hanya lewat telpon.

Esoknya kembali menjadi hari terbaik dalam hidup ku, pagi itu aku datang agak terlambat. Kebanyakan teman ku sudah melihat pengumumannya. Saat sampai sekolah diantar Riko, aku melihat Rama berdiri sendirian di depan papan pengumuman sambil memindai tulisan pengumuman mengenai di universitas mana kami lulus. Aku memperhatikannya dari jauh, ia belum menyadari keberadaan ku. Jari telunjuknya yang tadi bergerak di atas papan kini terhenti dan senyuman terlukis di wajahnya. Aku bisa menebak bahwa ia pasti salah satu dari empat orang tersebut. Aku berjalan mendekat. Kemudian ia berpaling ke arah ku dan tersenyum.

“Berita bahagia, Ratu” ujarnya sambil tersenyum, ia menyebut nama belakang ku. Aku terus berjalan mendekat hingga kini berada tepat di depannya.

“Berita apakah itu wahai, Raja?” Balas ku sambil tersenyum menggodanya.

Ia balas tersenyum, tangannya kemudian menunjuk sesuatu di papan pengumuman. Matanya melirik ke arah papan tersebut. Aku mendekat ke arah papan tersebut dan melihat kertas pengumuman dari universitas tempat ku mendaftar. Terdapat empat tulisan nama tertera di sana dengan stabilo hijau.

1. Ega Wahyu

2. Ramadhan Eka Rama

3. Robby Maulana

4. Sasa Selvina Ratu

Nama ku yang terakhir di tulis dan aku satu-satunya perempuan yang diterima di universitas tersebut. Tidak heran karena perempuan yang mendaftar waktu itu hanya empat orang dari tiga puluh orang dari sekolah ku. Aku melompat kegirangan dan berbalik ke arah Rama lalu memeluknya.

“Kita keterima, Ram!” Ujar ku girang. Aku menangis waktu itu saking senangnya. Tak lama, guru bk ku datang ke arah kami dan menyerahkan surat dari universitas tersebut kepada kami berdua. Aku memeluk guru ku tersebut dan berterimakasih kepada beliau. Rasanya hari itu adalah hari terbaik dalam hidup ku jika aku ingat-ingat lagi.

Tapi mungkin, Sabtu depan akan menjadi hari yang akan aku kenang seumur hidup ku.

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s