Being Perfect (Part 1)

Semua akhirnya terjadi sesuai seperti apa yang diramalkan oleh orang-orang. Tentang hubungan kami. Ya, hampir semua orang yang sudah mengetahuinya akan tertawa dan berkata “Sudah ku duga, dari dulu kau tidak pernah percaya. Benar kan, kalian akhirnya saling jatuh cinta”. Lucu memang, setelah sekian waktu kami berteman, bahkan kedua orang tua kami mentertawakan kami ketika mengetahui apa yang terjadi. Sewaktu kami masih SMP-SMA kami sering membuat gulungan sepotong kertas kecil berisi harapan yang kami masukkan di dalam toples kaca berhias pita biru. Kami tidak pernah saling mengetahui apa yang kami tulis di dalam situ, tetapi biasanya harapan yang kami tulis tercapai. Meskipun, tanggal terjadinya tidak sesuai dengan harapan kami. Aku paling banyak membuat harapan, dibanding dirinya. Tapi baru akhir-akhir ini aku tau kalau kebanyakan harapan yang ia tulis adalah memiliki ku sampai akhir waktu. Karena kami berjanji, untuk membuka gulungan tersebut, ketika salah satu dari kami akan menikah. Dan dua harapan kami, biasanya kami jadikan satu, dalam satu gulungan jika kami berdua sama-sama sedang membuat harapan.


Harapan 1:

“Membuat pakaian prom cantik yang match dengan setelan jas Riko” – Sasa

“Terlihat menjadi pasangan serasi bersama Sasa di hadapan wanita yang mencampakkan ku. Ya Tuhan, Sasa makin cantik saja.” – Riko

 Aku masih bisa ingat dengan jelas bagaimana harapan kami yang satu itu terwujud, meskipun aku tidak perna tau isi harapan Riko.

Malam pesta dansa akan diselenggarakan 2 minggu lagi dan gaun yang aku gunakan masih juga belum selesai. aku membuat mini dress hitam selutut dengan ornamen bunga-bunga di bagian dadanya serta dengan model rok tutu. Kata Riko, aku terlihat sok imut dengan dress itu waktu pertama kali aku menunjukkan rancangan pakaian prom ku padanya. Aku punya hobi merancang pakaian, dan prom kali ini adalah eksperimen pertama ku. Aku sengaja memilihkan setelan jas yang akan digunakan Riko supaya kami datang sebagai pasangan yang match. Kami melakukan ini dalam tujuan untuk membuat wanita yang mencampakkan Riko menjadi cemburu. Aneh? Tidak juga, aku hanya membantu dia sebagai sahabat yang baik.

Kami punya rumah pohon yang dibuat oleh Riko dan ayahnya saat kami berusia 6 Tahun. Rumah pohon tersebut dibangun di pohon besar yang berada di pekarangan belakang rumah kami. Orang yang memiliki tanah tersebut membolehkan kami bermain di tanahnya yang kosong. Pemiliknya tinggal di luar kota, dan tanah tersebut tidak diurus. Pemiliknya seorang kakek tua bekas pejuang yang sangat baik. Ia bahkan membolehkan kami menanam bunga di tanah tersebut. Di sekitar rumah pohon kami akhirnya kami tanam bunga-bunga. Meskipun aku tidak terlalu suka bunga, Riko selalu berkata bahwa wanita sejati itu yang suka bunga. Akhirnya aku selalu menurut ketika diajak olehnya menanam bunga. Di salah satu dahannya, kami menggantung ayunan kecil. Tapi ayunan tersebut jarang digunakan semenjak kami masuk SMA, dengan alasan khawatir dahannya patah dan kami bisa saja terjatuh.

Siang itu, aku menggerutu sendirian di rumah pohon selagi menunggu Riko pulang dari sekolahnya. Kami selalu sekolah di tempat yang berbeda. Sampai sekarang, kami sendiri tidak mengerti alasannya apa. Hingga ketika jam tangan menunjukkan pukul empat sore, Riko memunculkan wajahnya di depan pintu. Dia langsung menyadari keanehan yang terjadi. Aku menceritakan padanya kekhawatiran ku, alhasil ia justru mengajak ku membuat harapan dan memasukkannya ke dalam sebuah botol susu kaca yang baru saja ia habiskan. Ia membersihkan dan mengeringkan dalamnya, lalu ia ikatkan pita biru kecil yang ia temukan dari kamar kakak perempuannya di mulut botol tersebut karena ia tau aku penggemar warna biru.

Tepat dua hari dari sebelum prom dimulai, penjahit tempat ku membuat pakaian akhirnya menghubungi ku. Dan harapan bahwa kami tampil match bersama, terwujud. Wanita yang mencampakkan Riko mengajak Riko balikan. Tapi dengan mudahnya, Riko menolak wanita tersebut. Meskipun akhirnya wanita tersebut dendam pada ku, aku tidak peduli.

Harapan 2:

“Surprise ulang tahun Riko kali ini harus berhasil!” – Sasa

Aku tersenyum ketika membuka gulungan harapan ku sendiri. Ketika Riko akan berulang tahun ke-16. Aku teringat bagaimana siang itu aku sesegera mungkin pulang dari sekolah agar bisa cepat sampai rumah dan memberi kejutan untuk Riko. Aku mengebut dengan sepeda biru ku dari sekolah ke rumah. Aku bahkan hampir menabrak kucing milik tetangga ku waktu itu. Aku menelpon teman Riko yang juga teman ku sewaktu SMP agar menahan ia di kelas dengan berbagai tugas kelompok supaya ia tidak pulang lebih dulu. Bahkan, Egi mengajak Riko nongkrong di rumahnya dulu. Sampai rumah, aku langsung mengambil bahan-bahan yang aku butuhkan dan bergegas ke rumah Riko. Aku sudah membuat rencana dengan mama Riko, jadi aku segara disuruh masuk ketika aku mengetuk pintu depan rumah Riko. Aku dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya, kedua kakak perempuannya bahkan sudah menunggu. Segera, aku memberi tau rencana kejutan ulang tahun Riko. Bersama salah satu kakaknya yang bernama Mega, kami menghias kamar Riko dengan kejutan yang sudah direncanakan. Kak Sonya, bertugas untuk mengulur-ulur waktu pulang Riko agar kami sempat menyelesaikan tugas kami. Aku bersama Kak Mega mengumpulkan foto Riko sedari ia bayi, balita, ketika ia SD, hingga sekarang. Aku menyusun lilin berwarna merah, karena merah merupakan warna favorit Riko, dengan tulisan HBD 16 di lantai kamarnya. Setelah selesai, kami segera ke dapur rumah ku dan membuat kue ulang tahun untuk Riko.

Tepat pukul 7 malam, Riko terlihat kelelahan sampai rumah dan segera masuk ke kamarnya. Aku sudah bersiap bersama kedua kakaknya dengan kejutan kami. Tepat ketika Riko masuk Kak Mega menyeprotkan konfeti ke arahnya. Aku masih ingat sekali wajah lucunya karena terkejut, bahkan sampai sekarang aku tidak  bisa untuk tidak tertawa mengingatnya.

Riko memang berusia setahun lebih tua dari ku,  tetapi ia anak bungsu. Ia lambat masuk sekolah satu tahun yang membuat kami akhirnya seangkatan. Sedangkan aku, aku lebih muda daripada dirinya, tetapi aku anak sulung. Hal itu kadang membuat kami sudah seperti saudara sendiri.

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s