Dongeng Dua Anak Manusia

Mungkin ini cerita biasa, sering terjadi, bahkan mungkin ada yang mengalami hal seperti ini lebih menyedihkan. Berawal dari sebuah pertemuan di awal sekolah baru, dua anak manusia saling bertemu. Berteman, bersahabat, tidak saling tertarik, dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang bersama. Jatuh cinta dengan dunia masing-masing, saling tertawa, saling melengkapi, hingga keduanya sama-sama merasakan patah hati. Jatuh bersama, menghadapi masalah bersama, berharap tidak pernah ada perpisahan, tidak pernah ada jarak, lalu meraih puncak bersama-sama. Tapi, dengan diraihnya puncak itulah, awal perpisahan mereka. Lalu mereka mencoba untuk tetap mengisi, meminimalisir jarak, dan hal jauh pun terasa dekat. Mereka mengobati luka satu sama lain, saling mengerti, saling memahami, saling menjaga, bersikap seperti sahabat karena saling mengerti, seperti orang tua karena saling memperhatikan, seperti saudara karena saling menjaga, dan seperti pacar karena saling memahami. Lalu, luka mereka yang sembuh itulah menjadi awal cerita baru. Mereka memang awalnya menyangka luka mereka sudah benar-benar sembuh, hingga akhirnya si anak laki-laki mulai menjadi seseorang dalam hubungan mereka. Di suatu rabu malam di akhir musim gugur, anak laki-laki itu pun dengan resmi menjadikan si anak perempuan sebagai bagian dari hatinya. Atau sebut saja pacar. Tanpa anak laki-laki itu tau, si anak perempuan telah berharap memiliki ruang di hati si anak laki-laki sejak mereka saling mengobati. Hubungan mereka berjalan lancar, saling memperkenalkan kepada dunia bahwa mereka saling memiliki. Hingga, si anak laki-laki mulai sering meninggalkan pasangannya. Sampai di suatu malam minggu di musim dingin anak laki-laki itu memutuskan hubungan mereka. Alasannya simpel, ia belum memiliki izin untuk menjalin hubungan dengan seorang anak perempuan. Si anak perempuan yang awalnya menyangka lukanya telah sembuh total kembali jatuh, hanya ada beberapa teman yang terus mengajaknya bangkit. Tak berapa lama, seorang misterius datang kepada si anak perempuan. Ia adalah sahabat dekat si anak laki-laki. Lalu, ia bercerita. Si anak laki-laki mendapat sebuah surat rahasia. Surat itu berisi dua angka yang entah kenapa seperti menghipnotis si anak laki-laki. Tidak masuk akal, memang. Si anak laki-laki itu pun mencari tau tentang gadis pengirim surat rahasia. Anak laki-laki itu tertarik kepada gadis rahasia itu. Si anak perempuan misterius menyimpulkan, bahwa si anak laki-laki itu memutuskan hubungan karena gadis pengirim surat itu. Awalnya, si anak perempuan tidak percaya. Hingga, kabar di suatu pagi yang ia terima bahwa si anak laki-laki itu sudah menembak gadis pengirim surat itulah yang mengejutkannya. Anak perempuan itu pun memutuskan untuk pergi selamanya dari kehidupan si anak laki-laki. Si anak perempuan terus berlari, melupakan dan meninggalkan masa lalunya. Hingga sang pangeran berkuda datang dan membawa pergi si anak perempuan. Tapi cerita tidak selesai sampai di situ, si anak laki-laki ditolak dengan gadis pengirim surat yang hanya ingin mempermainkannya. Gadis misterius kembali memberikan kabar kepada si anak perempuan. Si anak perempuan sudah tidak perduli, ia sudah nyaman bersama pangeran berkudanya. Lama berselang setelah menjalin hubungan, si anak perempuan mulai merasa jengah dengan hubungannya bersama pangeran berkuda. Ia tidak mendapatkan apa yang ia butuhkan seperti yang anak laki-laki biasa berikan padanya. Si anak perempuan merasa tidak nyambung dengan sang pangeran. Kembali, di suatu malam si anak perempuan itu pun memilih untuk meninggalkan sang pangeran. Sang pangeran salah paham dengan anak perempuan itu, pangeran menyangka bahwa anak perempuan itu mempermainkannya. Tapi pada faktanya, si anak perempuan hanya tidak merasa cocok dengan pangeran. Batinnya tersiksa mengikuti mau pangeran yang sangat jauh berbeda. Lalu anak perempuan itu kembali berjalan sendiri di kegelapan, si anak laki-laki itu juga. Hingga si anak perempuan menemukan cerminan dirinya. Tidak murni seperti dirinya, hanya saja dia laki-laki. Laki-laki cermin itu pun selalu menemani si anak perempuan. Semua teman si anak perempuan menyetujui apabila ia bersama laki-laki cermin. Hanya saja, laki-laki cermin itu sama seperti dirinya. Terpuruk pada masa lalu. Lalu, si anak laki-laki menemukan si anak perempuan bersama laki-laki cermin. Si anak laki-laki itu menarik si anak perempuan dari laki-laki cermin. Si anak perempuan merasa senang, begitupun si anak laki-laki. Mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Suatu hari, si anak laki-laki terluka saat berlari. Si anak perempuan menemani si anak laki-laki sampai si anak laki-laki itu sembuh, si anak laki-laki menjanjikan sebuah hubungan pasti ketika si anak laki-laki telah meraih sebuah bunga emas. Bunga emas itu juga target yang ingin dicapai si anak perempuan. Si anak perempuan mengikuti kemana arah si anak laki-laki pergi, selalu bersamanya, mengisi kekosongannya, menjadi penghiburnya, menjadi tempat bersandarnya, dan menjadi tempatnya istirahat. Lalu, di suatu pagi yang cerah si anak laki-laki berlari terlalu cepat sehingga ia lupa bahwa masih ada si anak perempuan yang mengikutinya. Si anak laki-laki terlalu asik dengan jalan yang ia tempuh, ia tidak lagi melihat ke belakang dan mencari anak perempuan yang selalu menemaninya. Lalu si anak laki-laki menemukan sebuah tempat penuh kebahagiaan, si anak laki-laki singgah di situ dan pada akhirnya benar-benar lupa dengan si anak perempuan. Si anak perempuan yang mencoba mengejar si anak laki-laki malah menemukan suatu tempat gelap, si anak perempuan terus menyusuri jalan gelap sambil sesekali berbalik mencari cahaya. Berharap si anak laki-laki menemukannya dan kembali menemaninya serta melakukan hal yang biasa ia lakukan. Si anak perempuan terus berjalan pelan tapi pasti, dalam kegelapan, dalam kesepian, semua teman lamanya seperti hilang ditelan kegelapan, ditemani sepercik cahaya yang menemaninya ia menemukan seorang teman baru. Sepasang kekasih yang sedang berjalan dalam kegelapan mencari cahaya, lalu sepasang kekasih itu pada akhirnya menemukan cahaya mereka sendiri. Tersisa si anak perempuan kembali sendiri, kemudian ia menemukan seorang penjaga yang juga mencari bunga emas. Penjaga itu menemani si anak perempuan, menyediakan pundak untuk si anak perempuan, dan memberikan harapan tentang si anak laki-laki. Si anak perempuan kemudian menemukan seberkas cahaya, ia dan si penjaga mengikutinya. Si anak perempuan kemudian melihat si anak laki-laki di dalam sebuah tempat kebahagiaan. Si anak perempuan tidak pernah berani memanggil si anak laki-laki hanya untuk mengingatkan janjinya dulu. Lalu dalam seberkas cahaya yang tersisa, ia bersama sang Penjaga terus menyusuri jalan menuju bunga emas. Si anak perempuan, menulis di beberapa batang pohon menandakan bahwa ia masih berharap pada si anak laki-laki, mengirimkan pesan, dan terus bernyanyi untuk si anak laki-laki. Namun, kembali saat si anak perempuan telah kembali bertemu teman lamanya, laki-laki cermin, sepasang kekasih, si anak laki-laki tetap tidak pernah muncul. Si penjaga selalu menjaga si anak perempuan, membantunya melupakan tentang harapan dan mengajak si anak perempuan mencoba dunia baru setelah mengetahui dengan jelas kisah di antara si anak laki-laki dan si anak perempuan. Si anak perempuan hanya pasrah, mengikuti jalan menuju bunga emas, bersama teman lamanya, si laki-laki cermin, dan sepasang kekasih, serta si penjaga. Meski tanpa mereka semua tau, bahwa si anak perempuan masih terus dibayangi oleh bayangan si anak laki-laki. Satu hal yang belum dapat dilakukan si penjaga adalah, mematahkan keyakinan si anak perempuan bahwa si anak laki-laki akan kembali untuknya. Keyakinan yang tidak pernah diperlihatkan si anak perempuan, karena dia yakin akan mematahkannya suatu saat nanti, sendiri dengan atau bersama orang di sekelilingnya. Tapi anak perempuan itu belajar, tentang apa itu harapan, keyakinan, keinginan, kebutuhan, luka, jatuh cinta, dari orang pertama yang menjadi pangeran tak berkuda dalam hidupnya.

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s