Love Stories eps. 5 (Rizky)

Tidur itu hanya alibi ku saja. AKu hanya tidak ingin mengganggu waktu berdua Mas Fiqri. Tapi, entahlah akupun belum bisa tidur. Pikiran tentangnya menghantui otak ku. Aku memiringkan tubuh ku kanan, meraih iPod dan headset ku. iPod nano warna biru itu pun memunculkan beberapa playlist musik, aku mengklik salah satunya dan mendengarkan musik di playlist tersebut. Seketika, ingatan ku kembali ke masa lalu. Aku memejamkan mata ku, dan angin musim panas di tanah Inggris itu menghembus dari arah jendela. Kantuk menyergapku, membawa ku ke alam mimpi bersama mimpi dan pikiran ku tentangnya.

***

Kak Joan
10.00 30 Oktober 2009

Nanti siang habis pulang sekolah, bisa mampir ke Soneta dulu? Sebentar aja, ada yang mau saya sampaikan.

AKu baru saja selesai makan ketika mendapatkan sms tersebut. Entah, berita apa yang akan pelatih gitar ku itu beri tahu. Aku benar-benar malas, capek sekali jika harus pergi ke sana dahulu. Tapi sepertinya ini penting, lihat nanti saja lah. Tiba-tiba kedua teman ku dengan penuh keringat menghampiri ku, dan menarikku ke lapangan untuk bermain bola. Sekolah ku hari ini kedatangan tamu dari sekolah lain, diadakan pertandingan bola persahabatan. Tadi, itu sebabnya kedua teman ku bermandikan keringat dan kini mereka sudah mengajakku bermain juga. Selain pertandingan bola persahabatan, beberapa siswa dari sekolah mereka tampil untuk unjuk gigi. Begitu juga sekolah ku, aku tidak ikut tampil. Alasannya mudah, tidak ada yang tahu aku mampu bermain gitar secara klasik. Kini, aku berada tepat di depan gawang, memasang posisi ala Petr Cech dan memfokuskan pandangan ku pada sebuah bola yang ditendang ke sana sini. Tepat ketika junior ku menendangkan bolanya ke arah gawang, dentingan lembut sebuah piano dan lagu Maroon 5 berjudul She Will Be Love yang sedang populer mengalihkan perhatian ku. Mata ku tidak lagi fokus pada bola, aku sibuk memperhatikan gadis berambut pendek itu. Entah bagaimana, saat aku asik memperhatikan gadis itu teman-teman ku tiba-tiba saja menoyor kepala ku dan mengataiku. Beberapa saat aku berpikir, aku membiarkan gawang ku kebobolan karena gadis tersebut.

***

Sial! Momen itu kembali terulang dalam mimpi ku. Aku tiba-tiba saja terbangun. Suara gedebuk dari arah luar mengagetkan ku. Belanjaan seorang ibu jatuh begitu saja dari kreseknya. Isinya yang berupa kaleng-kaleng membuat bunyi jatuh terdengar sangat keras. Aku mendengar suara tertawa Mas Fiqri dan Clara dari luar. Aku iri. Sangat jelas aku iri. Aku menyenderkan tubuh ku di dinding yang berada di samping jendela. Angin musim panas kembali berhembus, menerpa sebagian wajah ku. Kini, lagu Kelly Clarkson yang berjudul Never Again yang mengalun di telinga ku. Aku kembali memejamkan mata ku, tapi tiba-tiba iPhone ku bergetar dari dalam saku celana ku. PING dari Laura. Aku tersenyum, tak lama voice note aku terima darinya. Aku mematikan iPod ku dan memindahkan headsetnya ke iPhone ku. Aku dengarkan dengan seksama. Semangat ku seperti membara lagi. Selesai mendengarkan Voice Note darinya, aku kembali membaringkan tubuh ku di kasur. Membalas pesannya, lalu mendengarkan kembali Voice Note yang ia kirimkan. Seketika aku tertidur dengan tenang. Angin musim panas kembali berembus. Ketenangan menyergapiku dan rasa letih ku seakan hilang.

Aku kembali bermimpi, aku menunggu di sebuah stasiun underground untuk waktu yang tidak sebentar sampai akhirnya hal yang aku tunggu itu datang. Meski mimpi ku itu tidak menggambarkannya dengan jelas.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s