Bisakah Perpisahan itu Ditunda?

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis lagi, kira-kira sekitar satu bulan lebih saya tidak menulis lagi. Sedikit kaku awalnya, tapi hari ini saya akan membahas tentang sebuah pertemuan-perpisahan serta sayang-benci. Kalau dipikir antar dua sub judul tadi sedikit kontra, bukan?
Tapi ini berdasarkan pengalaman saya selama setahun terakhir ini. Jadi, sebelum saya berada di kelas 8J–yang selama setahun terakhir membagi suka duka bersama saya–saya merupakan salah satu dari dua puluh delapan siswa 7G. Di kelas lama saya, saya tidak pernah mendapatkan semacam masalah berat, hukuman, masuk ke ruang BK, ataupun dijemur. Hingga di bulan Juli 2012, saya ditetapkan menjadi siswa di kelas 8J. Saya tidak tau dosa apa yang saya perbuat dulu atau mungkin karma. Kelas saya yang kali ini tiga ratus enam puluh derajat berbeda dengan kelas lama saya. Kelas saya yang kali ini depenuhi oleh trouble maker sekolah. Di semester pertama, masing-masing dari kami masih membawa ego dari kelas lama. Di semester pertama ini pula puncak kenakalan kami, ketua kelas beberapa kali berganti. Hingga, di suatu siang kami mendapat berita bahwa salah satu dari kami mengalami kecelakaan bermotor. Entah mengapa, tiba-tiba muncul perasaan iba dari masing-masing kami. Dan mulai dari kejadian tersebut, rasa kekeluargaan muncul dari masing-masing kami dan mulai hilang ego dari masing-masing kami. Awalnya kami menyangka itulah awal perdamaian tapi justru itulah yang merupakan awal permasalahan. Mungkin rasa kekeluargaan tersebut yang membuat kami akhirnya terjerumus ke beberapa masalah dan kasus. Sampai pada akhir semester pertama saya masih merasa kesal dengan sifat dan kelakuan mereka. Baru ketika memasuki semester kedua, kelas kami makin sering dihina, dicemooh, diremehkan, dan dipermalukan. Masalah seakan cinta dan tidak mau meninggalkan kami, sehingga setiap ada masalah selalu berujung di kelas kami. Tapi, tidak tau dari mana datangnya perasaan cinta dengan masalah malah muncul. Tepat di tanggal 12 Juni 2013, kami sadar bahwa dibalik rasa benci, kesal, dan ego kami di sanalah terdapat rasa sayang di antara kami. Sayang, kami menyadarinya 3 hari sebelum perpisahan. Sekarang, di saat waktu kami tinggal sedikit barulah kami menyadari bahwa kami semua saling menyayangi tanpa terkecuali masalah di antara kami semua.

Kesimpulannya adalah, waktu yang berharga memang terasa berlalu dengan cepat dan waktu akan terlihat berharga jika kita menghargai setiap detiknya. Jangan pernah terlalu benci, dan jangan pula terlalu sayang karena yang akan terjadi selanjutnya hanyalah kebalikannya dan ketika itu terjadi hanya penyesalan yang ada. Oleh karena itu, nikmatilah waktu Anda jangan pernah menyia-nyiakannya. Karena apa? Karena, ketika perpisahan sudah berada di depan mata, Kita baru akan menyadari bahwa kita telah melewati waktu yang berharga. Perpisahan tidak pernah bisa ditebak kapan, jadi pastikan Anda tidak membenci siapa yang berada di sekitar Anda sekarang dan siapa yang menemani waktu Anda.

Perpisahan tidak pernah bisa ditebak kapan, dan di saat perpisahan datang hati kecil Anda akan berkata “Bisakah waktu ini diulur atau bisakah perpisahan itu ditunda?”. Sadar atau tidak, itulah yang terjadi.

With warm regard :)))

Advertisements

3 thoughts on “Bisakah Perpisahan itu Ditunda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s