Love Stories Eps. 4 (Fiqri)

Pesan singkat dari Rizky ku terima setengah jam yang lalu. Kini aku tengah menunggunya di flat yang aku tinggali sendiri di Roseberry Avenue, flat yang tidak terlalu jauh dari St John lokasi City Unversity London tempat ku kuliah. Ia tiba di London Heathrow setengah jam yang lalu dan ketika aku menawarkan untuk menjemputnya ia memilih untuk menolak karena ia berkata bahwa ia akan mencoba Underground menuju Rosebery Avenue. Flat dan kampus ku yang berada di jantung kota london membuat ku memilik akses cukup mudah kemana saja. Aku telah menyiapkan sup ayam–menu andalan ku selama di London–dan sebuah Kopi Susu kesukaannya. Satu kamar kosong sudah ku siapkan untuknya istirahat ketika sampai nanti. Aku kini duduk di sofa merah yang berhadapan dengan meja makan. Tak lama aku duduk, bel interkom berbunyi.
“Rizky?”
“Iya, Mas.” ketika mendapat jawaban dari luar aku membukakan pintu untuknya. Ia lalu menaruh Tas Ransel Polo yang ia bawa di sofa merah ruang tamu ku. Matanya menerawang ke setiap sudut flat ku.
“Keren banget, Mas.” Katanya.
“Kamar mu ada di sebelah situ. Mandi dulu, makan, istirahat, nanti malam aku ajak keliling London.” Jawab ku lalu menunjukkan kamarnya. “Cepetan, nanti sup sama kopinya dingin.” Lanjut ku lagi ketika ia sudah berada di kamarnya dan membiarkan ia tekagum-kagum dengan suasana London yang menurut ku sangat sibuk.

Sepuluh menit kemudian aku sudah berada di ruang makan bersama. Entah kenapa sejak tadi meskipun ia terlihat kagum dan senang ada kesan kesepian di matanya.
“Kalau ngerasa Jet Lag atau Home sick itu biasa, kangen sama Laura, ya?” Tembakku akhirnya sambil meliriknya dengan tatapan mengejek.
Ia hanya tersenyum tipis. Aku paling tua di antara ketiga sahabat ku yang lain, dengan itu entah kenapa meskipun masing-masing dari kita adalah seorang yang tertutup aku selalu bisa membaca pikiran mereka. Mereka juga sering mencurahkan isi hatinya pada ku dan dari situ aku mengetahui segalanya.
“Mas, kita jalan-jalan besok aja ya. Aku mau istirahat dulu malam ini deh kayaknya.” Katanya akhirnya saat kami sudah selesai makan. “Sini mangkok sama gelasnya biar ku cuci.” Lanjutnya lagi seraya berdiri mengambil mangkok dan gelas kotor di hadapan ku. Aku hanya tersenyum melihatnya.

Tak lama ketika aku nonton di ruang tengah, ponsel ku berbunyi. SMS masuk dari Clara, teman perempuan ku selama dua bulan terakhir. Ia wanita spanyol yang merupakan seorang pelukis sekaligus junior ku. Clara bilang ia akan datang ke flat ku lima menit lagi karena ia telah berada di underground Farringdon yang tidak terlalu jauh dari flat ku.
Aku tidak membalas pesan dari Clara, aku merebahkan kepala ku di sofa dan tanpa ku sadari Rizky berada tepat di belakang ku.
“Kenapa nggak di balas, Mas? Kasian loh.” Kini gantian ia yang mengejekku. tepat setelah ia mengejekku, bel interkom berbunyi.
“Open the door honey, I’ve already here.” Katanya. Suaranya yang lembut dengan aksen spanyol menyadarkan ku. Aku segera bangkit dari sofa dan membuka pintu flat ku. Di musim panas ini Clara selalu mengenakan pakaian minim, kali ini ia hanya mengenakan dress strapless bergaris selutut. Rambutnya yang ikal kecoklatan ia biarkan tergerai dan ditutupi oleh bandana cantik dengan warna senada dengan dress yang sedang dipakainya. Aku tau, saat ini pasti Rizky sedang berdiri tepat di belakang ku dengan wajah bingung terutama ketika Clara mencium pipi ku. Ketika aku hendak memperkenalkan Clara, aku terlambat. Clara lebih dulu menyadari adanya Rizky dan di dalam rangkulan ku ia melirik ke arah Rizky.
“Kenalkan, dia Rizky. Sahabat yang ku anggap adik ku. Dia juga akan kuliah di London.” Kata ku akhirnya memperkenalkan Rizky. Ia keluar dari rangkulan ku dan menjabat tangan Rizky sambil memperkenalkan dirinya.
“Jadi, kalian sudah makan?” Kata Clara sambil kembali kepada ku.
“Kami barusan saja makan. Kau?” Aku menjawab pertanyaannya.
“Belum, rencananya aku akan masak untuk kalian. Tetapi berhubung kalian sudah makan, aku bisa makan nanti setelah pulang dari sini. Sebaiknya bagaimana kalau kita nonton film? Aku barusan saja membeli CD film The Croods, ku harap kita bisa nonton bersama.” Cerocosnya.
“Aku sangat ingin sekali bergabung bersama kalian, tapi aku harus istirahat. Aku baru datang dari Indonesia.” Rizky menolak perkataan Clara dengan nada sesopan mungkin. “Lagi pula, aku rasa kalian butuh waktu berdua. Clara, senang bertemu dengan mu.” Lanjutnya lagi lalu beranjak pergi ke kamarnya. Aku merangkul Clara dan mengajaknya duduk di sofa. menonton film sudah menjadi hal rutin untuk kami berdua, sejak dua bulan yang lalu. Clara duduk tepat berada di samping ku, tubuh mungilnya masih berada di rangkulan ku dan kepalanya bersender di bahu ku. Film di mulai.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s