Love Stories eps. 3 (Doni)

Entah bagaimana caranya, aku yang tadi malam meneguk wine dalam jumlah banyak di rumah Riko kini sudah terbaring di kamar serba merah apartemen Laura. Sinar matahari yang menerobos masuk dari celah jendela yang tidak tertutup tirai membangunkan ku. Masih mengingat apa yang terjadi semalam, tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka. Aku sudah menduga bahwa Laura akan masuk dan memarahi ku. Tapi kali ini dia tidak angkat bicara, hanya diam dan menyiapkan baju untuk dipakainya hari itu.
“Kamu mabuk semalam, tadi malam kamu di antar Riko.” Mengerti arti diam ku ia menjelaskan tanpa ditanya. “Kata Riko kamu lagi galau kan mikirin Nora? Kalau punya masalah cerita makanya.” Lanjutnya lagi mengomeli ku.
Aku tidak menjawab dan hanya mengusap wajah ku.
“Mama nyariin kamu semalem, aku bilang kamu nginep di sini. Kamu aman kok, lain kali jangan kebanyakan minum wine. masalah kamu nggak selesai kalau minum wine.” Kali ini ia berceramah.
“Aku mau pulang.” aku akhirnya berbicara lalu bangkit dari tempat tidur. Laura masih asik dengan riasannya. Sebelum keluar aku tersadar akan sesuatu dan kembali berbalik pada Laura yang menyadari aku batal keluar.
“Kenapa?” katanya dari cermin meja riasnya.
“Kalau aku tidur di kamar dan di ranjang mu, kamu? Kita nggak tidur bareng kan?” Kata ku akhirnya. Ia hanya tersenyum lalu menaruh sisirnya.
“Aku nggak sebodoh itu mau tidur sama kamu. Aku tidur di kamar tamu.” katanya tenang.
Lantas aku menghembuskan nafas lega. “Padahal kalau kamu tidur di ranjang itu aku mungkin bakalan lebih seneng.” Kata ku mencoba menggodanya. Ia lalu melemparkan bantal yang berada di dekatnya ke arah ku.
“Cepat mandi, baju mu sudah ku siapkan di ruang tengah. Mama bentar lagi datang, kalau nggak mau kena semprot.” Katanya lalu mengambil baju yang digantungnya di depan lemari. “Keluar sana! Aku mau pakai baju.” Lanjutnya lagi.
Aku mengiyakan perkataannya dan melangkah pergi dari kamarnya.

***

Ini bukan yang pertama kalinya aku memergoki Laura menangis. Entah apa yang ada di pikirannya sehingga membuatnya menangis, aku yakin bahkan sangat yakin kalau ia tidak menangisi masalah Orang Tuanya. Laura sudah mengikhlaskannya, prinsipnya “Kalau aku menangis, mereka yang berat perginya.” ada hal yang disembunyikan oleh Laura. Aku, Laura, Mas Rizky, dan Mas Fiqri jarang sekali terbuka satu sama lain. Bahkan di saat Mas Fiqri memutuskan pergi ke London tidak ada satu pun di antara kami yang mengetahuinya. Mas Rizky juga begitu, selama ini tidak ada yang mengetahui siapa pacarnya secara pasti. Tunggu, selama ini Laura tidak peduli dengan masalah cinta dan setiap Mas Rizky jadian aku ngerasa ada yang beda dari Laura. Entahlah, sepertinya hanya perasaan ku saja. Mana mungkin Laura cinta sama Mas Rizky bahkan saat Mas Rizky pergi ke London kemarin untuk menyusul Mas Fiqri, ia tidak menangis. Setahun yang lalu, selama seminggu aku bersama Mas Rizky mencoba memulihkan moodnya. Aku tidak pernah berhasil membaca apa yang ada di pikirannya dan sialnya dia selalu bisa membaca pikiran ku. tidak adil.

Aku berbalik dan berjalan menuju ruang tengah apartemen Laura dan berbaring di sofa yang berwarna merah dengan gambar under ground di sisi sebelah kiri. Aku pejamkan mata ku dan kejadian semalam seakan terputar kembali di otak ku.

Aku berjalan memasuki cafe bersama Riko. Malam minggu ini Nora pacar ku tidak mengajak bertemu dan aku mengiyakan tanpa mencurigai Nora sedikit pun. Malam itu aku berangkat menggunakan mobil Riko dan kami setuju untuk mendatangi cafe yang sedang menyelenggarakan lomba PES 2013 dilanjutkan nonton bareng The FA Cup Chelsea Vs Manchester United. Aku kelewat asik bersama Riko, hingga akhirnya gadis cantik dengan rambut terurai ke belakang mengejutkan ku. Dengan sangat percaya diri ia menggandeng tangan seorang pria yang tidak lebih tinggi daripada aku.
Gadis tersebut adalah Nora, pacar ku. Ini kali pertama ia melepas jilbabnya, selama dia pacaran dengan ku ia tidak pernah melepas jilbabnya dan pada kenyataannya saat ini pun ia masih pacar ku. Aku menarik tangannya dari pria pendek tersebut dan membawanya keluar cafe.
“Siapa dia?” Tembakku padanya.
“Bukan siapa-siapa.” Jawabnya sambil menghindari tatapan mata ku lalu mencoba pergi dari hadapan ku. Aku menarik tangannya dan tidak melepaskannya.
“Dia pacar ku.” Akhirnya ia menjawab dengan jujur.
“Pria pendek itu pacar mu? Hah, ku pikir kamu suka cowok tinggi.” Balas ku menyindirnya sambil mencoba meredakan emosi ku. Dulu, Nora berkata bahwa ia menginginkan seorang pacar yang tinggi tetapi pada kenyataannya selingkuhannya itu tidak lebih tinggi daripada aku.
“Dia tidak pendek. 173 cm.” Katanya membela selingkuhannya itu di depan ku. Sialan, ucap ku dalam hati.
“Apa kamu bilang? Tidak pendek? Hello, aku pacar terang mu, Ra! Tinggi ku 180 cm. Kemana jilbab mu? Dibuka sama pacar gelap mu itu? Dengar ya, jangan pernah kamu muncul di hadapan ku lagi. Kita putus.” Kata ku akhirnya tanpa memberikan kesempatan untuknya berbicara.
Aku memasuki cafe tersebut, tanpa sengaja tatapan ku bertemu dengan pacar baru Nora yang pendek itu. Aku memberikan tatapan membunuh ku padanya, sukses. Ia tidak berani menatap mata ku lekat-lekat dan memilih kembali konsen pada pertandingan bola yang dilaksanakan di Old Trafford itu.
Aku lalu mengajak Riko pergi dari situ, aku sempat berselisih dengan Nora. Aku tidak menganggapnya ada dan terus berjalan mengindahkannya. Saat di mobil sebelum Riko sempat bertanya aku menceritakan semua padanya mengapa aku tiba-tiba mengajaknya pergi. Ia lalu membawa ku ke rumahnya yang tidak jauh dari cafe tersebut. Di rumah Riko ada beberapa wine. Aku meneguk Red Wine, untuk menenangkan diri ku. Ini pertama kali aku meneguk wine dan akhirnya aku mabuk total. Biasanya aku mabuk dengan kafein, tapi kali ini aku benar-benar butuh tenang. Riko yang menyadari aku mabuk total mengantar ku ke apartemen Laura.

“Hoy!” Laura mengibaskan telapak tangannya di wajah ku.
Aku membuka mata ku dan mendapati ia kini duduk di hadapan ku.
“Sudah bangun siang, masih aja tidur.” Katanya menyindir ku lalu menyalakan teve. “Lupain Nora, udah ku bilang cinta itu gak lebih dari kesenangan fana yang bakalan ilang sewaktu-waktu.” Matanya tetap tertuju pada saluran MTV yang kini memutar video klip lagu Taylor Swift yang bejudul I know You Were Trouble. “Hidup mu belum berakhir, bodoh aja kalau mau sakau gara-gara cinta. Putus satu tumbuh seribu, itu prinsip. Masih banyak cewek yang mau sama kamu, Don. Lihat ke luar, lupain cewek brengsek itu.” Aku hanya diam mendengarkan kultumnya barusan. “Kalau dikasih tau nyahut, jangan diam aja.” Lanjutnya lagi sedikit kesal karena aku tetap bergeming.
“Carikan aku cewek baru dong.” Kata ku akhirnya mengalihkan perhatiannya agar tidak terus-terusan ceramah di hadapan ku.
“Sama Luna, mau? Dia minta nomor kamu semalem.” Jawabnya sambil tersenyum usil.

Bersmabung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s