Love Stories eps. 2 (Laura)

Aku kini kembali berdiri memeluk Mas Rizky, sahabat ku yang akan ikutan pergi dari ku. Setahun yang lalu, kejadian ini juga terjadi. Ketika itu, Mas Rizky merangkul ku dengan erat seakan memastikan bahwa ini bukan akhir dari segalanya. Setahun yang lalu aku, Mas Rizky, dan Doni melepas kepergian sang penggesek biola Mas Fiqri. Waktu itu, ia baru lulus SMA dan memilih untuk melanjutkan pendidikan di salah satu sekolah seni di London. Dua hari sebelum keberangkatan Mas Fiqri, kami sempat tampil untuk yang terakhir kalinya dalam band klasik kita. Waktu itu, aku masih kelas sembilan yang akan masuk SMA sama seperti Doni. Mas Fiqri selalu berkata kepada kami bahwa Musik bukan hanya untuk dimainkan tetapi juga untuk didengar, Musik adalah detakan harmoni yang mengetuk hati. Musik kami terasa sepi setahun belakangan ini, terutama setelah Mas Fiqri memilih pergi ke London dibanding mengambil beasiswa musik di Indonesia.

Hari ini, kembali. Jika tahun lalu Mas Rizky merangkulku dengan erat dan Doni menggenggam tangan kanan ku seakan menguatkan ku yang sedang melambai sedih ke arah pesawat yang akan terbang ke London, sekarang hal itu kembali terjadi hanya saja kali ini tinggal Doni yang berada di samping ku.
“Dan pada akhirnya, semuanya akan pergi.” Ucap ku nanar. Doni hanya bergeming tak bersuara, tetapi dari genggaman tangannya pada ku menandakan bahwa ia sedang mencoba menguatkan ku.
“Mungkin tahun depan kamu yang bakal pergi, Don.” Kata ku lagi tidak memperdulikan Doni yang terus diam.
Kini aku mendongakkan kepala ku mencoba melihat ekspresi wajah Doni. Ia hanya tersenyum tipis saat aku menatapnya, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Doni memang termasuk orang yang sulit ditebak.
“Apa kamu bisa bertahan tanpa aku?” Dia akhirnya bersuara. Ekspresi di wajahnya masih sama, datar. Matanya masih terpaku pada pesawat yang kini sudah mulai mengecil di langit
“Kenapa enggak?” Kata ku sewot mendengar pertanyaannya.
“Mama ku udah nyiapin paket pendidikan di London. Kita bisa ke sana berdua, kita bisa ketemu Mas Fiqri.” ujarnya mencoba santai meskipun dari nadanya aku bisa mendengar bahwa ia hanya mencoba kuat.
“Mama kamu nyiapin buat kamu, bukan buat aku.” jawab ku sama datarnya.
“Tapi bagi Mama ku, kamu udah kayak anaknya. Kamu kakak ku, Laura.” sahutnya lalu menarikku pergi meninggalkan bandara.

Di perjalanan menuju rumah, aku memikirkan kata-kata Doni. Enam bulan yang lalu, aku ngerasa semua pergi dari hidup ku. Kedua orang tua ku akan melakukan kunjungan perusahaan ke Australia. Tetapi naasnya, pesawat tersebut jatuh dan sudah bisa ditebak lah, mereka meninggal dunia dan meninggalkan ku sendiri di dunia ini. Aku beruntung, orang tua ku memiliki investasi yang besar. Ketika mereka meninggal, saudara Mama ku mengambil alih perusahaan Papa. Oom Tris–panggilan ku untuk saudara mama–menguasai perusahaan papa dan menjadikan itu sebagai miliknya. Untuk rumah, mobil, perhiasan, tabungan, semua ada di tangan ku. Aku menyewakan rumah ku yang kini ditempati sebagai kantor, aku membeli sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu besar tetapi cukup manis untuk menaruh perabotan rumah peninggalan orang tua ku dan mobil Papa dan Mama yang tidak mungkin ku pakai dua-duanya serta untuk ditinggali oleh Kakek-Nenek ku, aku juga membeli sebuah apartemen dari beberapa perhiasan Mama yang ku jual untuk ku tinggali setiap harinya karena aku tidak cukup berani tinggal di rumah sendiri karena Kakek-Nenek ku lebih sering tinggal di rumah mereka sendiri. Sisanya ku tabung dari uang sewa rumah per tahun untuk masa depan ku. Pelajaran dari Mas Fiqri untuk tidak berfoya-foya membuatku tau bagaimana caranya menyelamatkan harta orang tua ku yang masih tersisa untuk hal yang lebih baik dibanding dikuasai oleh saudara orang tua ku yang tidak jelas asalnya. Aku ditinggalkan dalam keadaan berada, tetapi tanpa orang tua membuat ku merasa miskin. Aku menjual perhiasan Mama dan mengambil sepertiga tabungan Papa untuk beli rumah dan apartemen bukan untuk memanfaatkan keadaan. Aku melakukannya agar semuanya bisa berguna, dan orang tua ku akan bangga diatas sana melihat aku anaknya mampu memanfaatkan apa yang ada dan mencoba bertahan. Aku memiliki usaha Online, dari situ aku memiliki penghasilan setiap harinya. Penghasilan itu aku gunakan untuk menghidupi Kakek-Nenek ku serta untuk kebutuhan ku setiap harinya. Keberuntungan ku belum setop sampai di situ, Toko yang ku miliki juga lumayan ramai sehingga aku bisa memiliki pendapatan minimal seratus ribu sehari. Banyak yang bilang aku memiliki feng-shui bagus untuk melakukan usaha dan aku berharap itu benar. Lalu, Orang tua Doni memutuskan untuk mengurus ku. Awalnya aku menolak dengan manis, hingga akhirnya Mama Doni yang kini ikutan ku panggil Mama itu senang dengan gaya hidup ku yang teratur. Beliau selalu datang setiap minggu ke apartemen ku bersama Doni yang biasanya sudah dari hari Sabtu menginap di apartemen ku untuk menemani hari Minggu ku. Begitulah, hingga akhirnya aku dianggap anak oleh Mama–Mama Doni–yang kata Doni telah menyiapkan pendidikan untukku.

Doni menggenggam telapan tangan ku. Dari sudut mata ku, aku melihatnya tersenyum meskipun tatapannya masih fokus ke jalanan yang ada di depannya.
“Aku ikut kamu.” akhirnya aku berkata, aku sangat mengerti tatapannya. Sangat mengerti.
“Ke London?” tanyanya lagi meyakinkan.
“Iya, Doni. Aku ikut kamu ke London.” jawab ku yakin.
Aku memejamkan kedua mata ku meyakinkan pilihan ku. ini yang terbaik, ucap ku dalam hati meyakinkan.

Bersambung..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s