Love Stories eps. 1 (Rizky)

Aku memetikkan senar gitar klasik coklat yang kini berdiri gagah di depan tubuh ku. Jemari ku bergerak lincah di antara fret-fret yang ada di neck gitar ku. Di sebelah kanan ku terdapat gadis cantik yang berusia dua tahun di bawah ku. Dengan mata yang berfokus pada tuts putih dan hitam piano klasik di hadapannya, ia mendentingkan simfoni indah. Persis di samping ku, berdiri seorang lelaki berpenampilan gagah yang menggesek senar biola dengan ukuran 3/4. Lalu, di antara aku dan gadis cantik sang pianis terdapat seorang laki-laki gagah yang kini sedang meniup sebuah saxophone. Kami terus memainkan simfoni klasik tersebut, hingga bait terakhir dari partitur lagu tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama ketika musik berakhir dan kami menundukkan kepala tanda terimakasih, riuh tepuk tangan pecah begitu saja. 

Perkenalkan, nama ku Rizky. Gitaris klasik dari band Sinfonía–dari bahasa Spanyol artinya Simfoni–lalu dua teman ku yang gagah itu bernama Doni dan Fiqri. Doni si peniup Saxophone, dan Fiqri si penggesek Biola. Gadis cantik pendenting musik klasik dari piano itu bernama Laura. Band ini berawal dari sebuah penampilan pertama kami dulu, setahun yang lalu. Kami merupakan siswa dari sebuah tempat kursus musik besar, hingga di konser akbar yang diadakan tempat kursus kami memulai kisah. 

Waktu itu, penampilan kami satu waktu yang membuat kami menjadi sering bertemu dan akhirnya memulai kisah persahabatan. Di antara kami, Doni yang paling muda dan Fiqri yang paling tua. Aku dan Laura anak tengah, haha. 

Hari ini kami tampil memenuhi permintaan untuk mengisi acara pembukaan ulang tahun tempat kursus kami. Aku patut bersyukur karena penampilan kami nyaris sempurna dan tepukan riuh terus terdengar sampai kami meninggalkan panggung. 

Kini kami berempat duduk manis di sebuah cafe sambil meneguk kopi. Fiqri yang setahun lebih tua diatas ku tiba-tiba saja mengajak nongkrong bersama. Aneh, ini bukan hal biasa. Fiqri tidak terlalu suka nongkrong, karena menurutnya itu sangat tidak membuahkan hal positif apapun. Entah kenapa, jantung ku kini berpacu lebih cepat ketika air muka Fiqri berubah serius. Seorang laki-laki gagah yang biasa kami andalkan itu kini berubah rapuh. Kakak dari kami semua itu memang baru lulus SMA, dan ku mohon ini bukan berarti…

 

Bersambung..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s